Mahasiswa Ilmu Komputer UGM Raih First Prize di Global Sustainability Challenge Regional Asia-Pasifik

Mahasiswa Ilmu Komputer UGM Raih First Prize di Global Sustainability Challenge Regional Asia-Pasifik

Zhejiang University, China, 18 Januari 2026 – Prestasi membanggakan di kancah internasional kembali ditorehkan oleh mahasiswa UGM. Satwika Nino Wandhana, mahasiswa Program Studi Ilmu Komputer, Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika (DIKE) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM), yang tergabung dalam tim “Tycoon” berhasil menyabet penghargaan First Prize dalam ajang Global Sustainability Challenge (GSC) Regional Final Asia-Pacific. Kompetisi ini diselenggarakan pada 17-18 Januari 2026 di Zhejiang University, Hangzhou, China, yang merupakan kompetisi puncak regional untuk mempertemukan inovator muda dari berbagai negara dengan tujuan merancang solusi nyata yang dapat diterapkan untuk mengatasi isu-isu keberlanjutan global.

Dalam kompetisi yang menuntut kolaborasi lintas disiplin ilmu tersebut, Satwika bersama rekan setimnya dari FEB UGM dan Hong Kong University of Science and Technology (HKUST) mengembangkan inovasi bertajuk Resilient360, sebuah platform manajemen kebencanaan terintegrasi yang dirancang dengan menggabungkan tiga komponen teknologi utama, yakni sistem peringatan dini (early warning system), aplikasi seluler berbasis komunitas untuk pelaporan waktu nyata (real-time), serta armada drone logistik yang ditenagai oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Peran teknologi informasi menjadi tulang punggung dalam sistem ini untuk memastikan data dan logistik dapat dikelola secara presisi.

Pengembangan Resilient360 dilatarbelakangi oleh permasalahan klasik dalam manajemen bencana, yaitu fragmentasi koordinasi, keterbatasan informasi di lapangan, serta lambatnya distribusi bantuan. Solusi yang ditawarkan tim “Tycoon” ini dinilai unggul oleh dewan juri karena pendekatannya yang bersifat end-to-end. Platform ini tidak hanya berhenti pada pengumpulan data, tetapi juga mengintegrasikan teknologi canggih dengan peran aktif masyarakat untuk meningkatkan kecepatan respons tanggap darurat yang sering kali menjadi titik krusial keselamatan korban. 

Perjalanan hingga menuju podium juara melalui proses yang panjang selama kurang lebih tiga bulan, mulai dari perumusan ide hingga pengembangan purwarupa. Babak final kompetisi dilaksanakan secara hybrid, di mana sebagian perwakilan tim hadir langsung di lokasi final, China, dan anggota lainnya berpartisipasi secara daring. Dinamika ini memberikan pengalaman nyata bagi para mahasiswa mengenai pentingnya kolaborasi tim yang solid di tengah tantangan jarak dan perbedaan zona waktu.

Bagi Satwika, kemenangan ini menjadi pembuktian bahwa keahlian di bidang ilmu komputer memiliki dampak nyata dalam menyelesaikan masalah kemanusiaan global. “Prestasi ini menjadi pengalaman berharga dalam kolaborasi lintas disiplin dan internasional. Saya berharap capaian ini dapat menginspirasi rekan-rekan mahasiswa DIKE FMIPA UGM lainnya untuk terus berani berinovasi dan berkontribusi menjawab tantangan global melalui riset dan teknologi yang tepat guna,” ungkapnya.

Keberhasilan dan pencapaian ini sekaligus menegaskan kontribusi nyata mahasiswa UGM terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Pemanfaatan teknologi AI dan drone dalam manajemen bencana secara langsung mendukung SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) serta SDG 11 (Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan), khususnya dalam mengurangi risiko bencana. Selain itu, fokus solusi pada adaptasi terhadap bahaya alam selaras dengan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), yang semuanya dicapai melalui semangat kolaborasi lintas negara sesuai prinsip SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Author : Faiz Anggoro
Editor : RIfki
#SDGs9 #SDGs11 #SDGs13 #SDGs17


Sebelumnya
Berikutnya