Mahasiswa MEI DIKE UGM Kembangkan Penerima LoRa Dua Kanal Pemantau Bencana via Satelit Terindeks Prosiding Scopus

Mahasiswa MEI DIKE UGM Kembangkan Penerima LoRa Dua Kanal Pemantau Bencana via Satelit Terindeks Prosiding Scopus

Yogyakarta, 8 Juni 2026 – Mahasiswa Program Studi Magister Elektronika dan Instrumentasi (MEI), Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika (DIKE) FMIPA UGM kembali menunjukkan kontribusi dalam pengembangan teknologi komunikasi satelit untuk mitigasi bencana. Melalui riset inovatifnya, Maulana Ali Arifin berhasil mengembangkan purwarupa penerima Long Range (LoRa) dua kanal berbiaya rendah untuk pemantauan bencana via satelit. Riset bertajuk “A Low-Cost Dual-Channel LoRa Receiver for Satellite Disaster Monitoring” tersebut dipresentasikan pada 2025 IEEE International Conference on Aerospace Electronics and Remote Sensing Technology (ICARES) yang merupakan prosiding internasional terindeks Scopus. 

Paper ilmiah ini ditulis bersama Dr. Agfianto Eko Putra, M.Si. sebagai corresponding author, yang juga merupakan anggota Laboratorium Sistem Tertanam dan Robotika (STR) DIKE UGM, serta melibatkan kolaborasi peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Riset tersebut berangkat dari tantangan nyata saat terjadi bencana alam, di mana jaringan komunikasi terestrial sering kali mengalami gangguan. Meskipun satelit orbit rendah atau Low Earth Orbit (LEO) yang dikombinasikan dengan LoRa mampu menjadi jalur komunikasi alternatif, penerima LoRa konvensional berkanal tunggal rentan mengalami bottleneck atau penumpukan data. Kondisi ini sangat berisiko menyebabkan keterlambatan hingga kehilangan data penting ketika banyak sensor darurat mengirimkan informasi secara bersamaan.

Guna mengatasi keterbatasan tersebut, tim peneliti merancang purwarupa penerima LoRa yang mampu mengakuisisi data dari dua frekuensi berbeda secara simultan tanpa memerlukan perangkat keras yang rumit dan mahal. Sistem ini dibangun menggunakan mikrokontroler ESP8266 dan dua modul LoRa berbasis Commercial-Off-The-Shelf (COTS) yang beroperasi pada frekuensi 920 MHz dan 923 MHz, yakni rentang frekuensi LoRa yang digunakan di Indonesia. Dengan pendekatan ini, kapasitas akuisisi data dapat ditingkatkan dibandingkan penerima satu kanal. Salah satu kontribusi utama dari rancangan ini adalah pemanfaatan metode SoftwareSerial dengan firmware berbasis non-blocking guna mengatasi keterbatasan ESP8266 yang hanya memiliki satu antarmuka UART perangkat keras. Pendekatan ini memungkinkan sistem melakukan polling terhadap dua kanal secara bergantian dengan cepat, sehingga data dari kedua kanal dapat diterima dan diproses secara real-time.

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa purwarupa ini sukses mengonfigurasi dan memisahkan kedua kanal frekuensi secara presisi. Pemantauan melalui spectrum analyzer mencatat daya transmisi aktual pada kisaran 28,7 dBm untuk kanal pertama dan 28,3 dBm untuk kanal kedua setelah dikompensasi dengan attenuator 20 dB. Pengujian akuisisi data juga menunjukkan performa yang stabil. Dua transmitter LoRa independen dikonfigurasi untuk mengirimkan paket data setelah menerima sinyal beacon. Penerima dua kanal berhasil menangkap data dari kedua sumber tanpa kehilangan paket data sama sekali, dengan selisih waktu penerimaan antarkanal yang stabil pada kisaran 30 hingga 32 milidetik. Kestabilan tersebut menunjukkan kemampuan sistem untuk mendukung aplikasi pemantauan bencana yang membutuhkan respons cepat. Dari sisi implementasi, rancangan ini memanfaatkan komponen yang mudah diperoleh, berbiaya rendah, dan cocok untuk prototipe sistem komunikasi satelit skala kecil seperti CubeSat. Walaupun demikian, sistem ini masih memiliki kendala pada penggunaan SoftwareSerial yang masih membebani CPU serta keterbatasan jumlah pin GPIO pada ESP8266. Pengembangan ke depan akan diarahkan pada penggunaan mikrokontroler dengan antarmuka UART perangkat keras yang lebih banyak, seperti ESP32.

Pengembangan infrastruktur komunikasi satelit berbiaya rendah ini, Program Studi MEI DIKE UGM menunjukkan perannya dalam menghasilkan riset terapan yang tidak hanya berkontribusi secara akademik, tetapi juga memiliki potensi implementasi nyata untuk kebutuhan nasional yang sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Inovasi perangkat keras mitigasi bencana tersebut merupakan wujud implementasi SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur). Pemanfaatan teknologi tersebut memberikan dukungan langsung terhadap sistem peringatan dini kebencanaan pada capaian SDG 11 (Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan), sekaligus menunjang SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui optimalisasi pemantauan lingkungan dari risiko bencana akibat krisis iklim. Capaian publikasi ilmiah pada prosiding internasional bereputasi yang terindeks Scopus ini menjadi upaya DIKE UGM dalam mendorong lahirnya sistem Internet of Things (IoT) berbasis satelit yang tangguh untuk mendukung pemantauan mitigasi bencana di Indonesia. 

Author : Andi Dharmawan
Editor : Faiz Anggoro
#SDGs9 #SDGs11 #SDGs13


Sebelumnya
Berikutnya