Yogyakarta, 9 Juni 2026 – Mahasiswa Program Studi Magister Elektronika dan Instrumentasi (MEI), Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika (DIKE) FMIPA UGM, Maulana Ali Arifin, berhasil memublikasikan hasil penelitiannya mengenai skema komunikasi satelit untuk sistem peringatan dini bencana. Artikel ilmiah bertajuk “A Beacon-Synchronized TDMA Scheme for Enhanced Uplink Performance in LoRa LEO Satellite” tersebut dipresentasikan pada 2025 IEEE International Conference on Aerospace Electronics and Remote Sensing Technology (ICARES), sebuah prosiding internasional bereputasi yang terindeks Scopus.

Publikasi ilmiah ini merupakan hasil kerja sama Maulana dengan Dr. Agfianto Eko Putra, S.Si., M.Si. selaku anggota Laboratorium Sistem Tertanam dan Robotika (STR) DIKE UGM yang berperan sebagai corresponding author, serta Wahyudi Hasbi dari Pusat Riset Teknologi Satelit Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Riset tersebut merespons kondisi infrastruktur komunikasi terestrial di Indonesia, mengingat posisinya di kawasan Cincin Api Pasifik yang rentan mengalami gangguan saat terjadi bencana alam. Sebagai solusi alternatif, penelitian ini mengkaji pemanfaatan satelit orbit rendah atau Low Earth Orbit (LEO) yang digabungkan dengan teknologi komunikasi jarak jauh berdaya rendah, LoRa. Satelit LEO memiliki keunggulan berupa cakupan luas dan latensi yang lebih rendah dibandingkan satelit geostasioner, sehingga kombinasinya dengan LoRa sangat berpotensi digunakan untuk mengirimkan data penting dari sensor aktivitas seismik, perubahan permukaan air, maupun deformasi tanah.

Meskipun penggabungan LoRa dan satelit LEO sangat potensial, sistem ini dihadapkan pada tantangan pengaturan akses uplink dari banyak perangkat sensor ke satelit. Protokol akses acak konvensional seperti ALOHA dan Slotted ALOHA rentan mengalami tabrakan paket (collision) ketika jumlah terminal meningkat. Kondisi ini menjadi kritis karena banyak sensor dapat mengirimkan data secara bersamaan setelah terjadi peristiwa tertentu, misalnya gempa bumi atau kenaikan muka air secara tiba-tiba. Guna mengatasi hambatan tersebut, tim peneliti mengusulkan skema Beacon-Synchronized Time Division Multiple Access (B-STDMA) di mana satelit memancarkan beacon sebagai sinyal sinkronisasi kepada terminal di permukaan bumi. Melalui skema ini, setiap perangkat menggunakan identitas uniknya untuk memperoleh giliran transmisi yang terjadwal sehingga potensi tabrakan paket dapat ditekan secara signifikan.
Hasil simulasi sistem melalui MATLAB menunjukkan bahwa skema B-STDMA memiliki kinerja yang lebih stabil dibandingkan protokol Pure ALOHA maupun Slotted ALOHA. Pendekatan ini menunjukkan keunggulan dalam aspek stabilitas throughput, rasio pengiriman paket (packet delivery ratio), serta pengendalian tingkat tabrakan data (collision rate) seiring bertambahnya jumlah terminal yang aktif. Keunggulan performa tersebut menjadikan skema B-STDMA sangat relevan untuk pengembangan sistem pemantauan bencana dan peringatan dini di Indonesia. Skema ini dapat menjadi salah satu pendekatan untuk membangun jaringan sensor yang lebih andal, terutama di wilayah terpencil, kepulauan, atau daerah yang sulit dijangkau oleh infrastruktur komunikasi konvensional agar data lapangan dapat dikirimkan secara konsisten menuju BMKG maupun BNPB.

Capaian publikasi di prosiding internasional terindeks Scopus ini memperkuat peran Program Studi MEI dan Laboratorium STR DIKE UGM dalam mengembangkan teknologi cerdas yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Penguasaan teknologi komunikasi satelit dan Internet of Things (IoT) untuk memenuhi kebutuhan strategis nasional merupakan perwujudan nyata SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur). Selain itu, peningkatan ketangguhan sistem peringatan dini bencana sangat sejalan dengan upaya membangun SDG 11 (Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan), sekaligus menjadi strategi krusial dalam mitigasi dan adaptasi risiko iklim pada capaian SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim). Melalui capaian riset terapan ini, DIKE UGM terus mendukung penguatan infrastruktur mitigasi demi terwujudnya sistem komunikasi kebencanaan yang tangguh, mandiri, dan sesuai dengan kondisi geografis di Indonesia.
Author : Andi Dharmawan
Editor : Faiz Anggoro
#SDGs9 #SDGs11 #SDGs13