Yogyakarta, 10 Juni 2026 – Rifki Ardinal, mahasiswa Program Studi Magister Elektronika dan Instrumentasi (MEI), Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika (DIKE) FMIPA UGM, memublikasikan riset terbarunya mengenai skema koreksi galat untuk sistem komunikasi satelit. Artikel ilmiah bertajuk “Comparative Performance Analysis of Forward Error Correction Schemes in AX.25-Based APRS Communication Systems with AFSK Modulation using GNU Radio Simulation” tersebut diterbitkan pada IIUM Engineering Journal Volume 27 Nomor 2 edisi tahun 2026. Publikasi ini tercatat sebagai jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus dengan kategori Q3 pada bidang Engineering berdasarkan pemeringkatan SCImago Journal Rank.

Artikel ilmiah ini ditulis oleh Rifki bersama Dr. Agfianto Eko Putra, S.Si., M.Cs., anggota Laboratorium Sistem Tertanam dan Robotika (STR) DIKE UGM yang bertindak sebagai corresponding author. Penelitian ini turut melibatkan peneliti dari Pusat Riset Teknologi Satelit Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yakni Wahyudi Hasbi, Eriko Nasemudin Nasser, dan Widya Roza. Riset tersebut difokuskan untuk menjawab kebutuhan peningkatan keandalan komunikasi Automatic Packet Reporting System (APRS) berbasis protokol AX.25 di Indonesia. Teknologi komunikasi radio ini sangat fungsional untuk pelacakan posisi, pengiriman pesan singkat, pemantauan cuaca, hingga komunikasi darurat, terutama ketika infrastruktur komunikasi terestrial terputus di wilayah terpencil maupun area terdampak bencana.
Untuk mengurangi kesalahan bit pada kanal komunikasi ruang angkasa yang bising, tim peneliti membandingkan performa berbagai skema Forward Error Correction (FEC). Pengujian ini mencakup sistem tanpa FEC, skema Reed-Solomon (255,223), beberapa konfigurasi convolutional code, serta kombinasi Reed-Solomon dan convolutional coding. Seluruh tahapan simulasi dijalankan melalui perangkat lunak GNU Radio dengan pemodelan kanal Additive White Gaussian Noise (AWGN) dan Rayleigh fading. Pemodelan tersebut diterapkan agar pengujian mampu merepresentasikan kondisi komunikasi satelit secara ideal, sekaligus mencakup lingkungan multipath yang lebih realistis.

Evaluasi dari simulasi tersebut menunjukkan bahwa convolutional coding dengan rate 1/3 dan constraint length K=7 memberikan performa terbaik. Pada kanal AWGN, konfigurasi ini mampu mencapai kondisi bebas galat pada tingkat Eb/No = -2,5 dB. Saat diuji pada kanal Rayleigh fading, skema ini tetap menunjukkan ketahanan yang lebih baik dibandingkan metode tanpa FEC maupun Reed-Solomon. Secara spesifik, metode Reed-Solomon terbukti efektif menangani burst error, namun performanya masih lebih terbatas pada kondisi fading. Sementara itu, kombinasi Reed-Solomon dan convolutional coding memiliki potensi yang baik, tetapi membutuhkan interleaving agar lebih stabil pada kanal yang buruk. Mengingat perangkat satelit kecil seperti CubeSat umumnya memiliki keterbatasan daya, bandwidth, dan sumber daya komputasi, pemilihan skema galat tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menurunkan bit error rate. Aspek lain seperti kompleksitas implementasi, latensi, dan kebutuhan perangkat keras wajib dipertimbangkan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa convolutional coding rate 1/3 dengan K=7 menjadi pilihan paling praktis karena mampu memberikan keseimbangan yang tepat antara keandalan komunikasi dan kebutuhan komputasi. Ke depan, temuan teoretis ini akan dikembangkan lebih lanjut menuju fase implementasi hardware-in-the-loop serta pengujian presisi menggunakan perangkat Software Defined Radio (SDR) secara nyata.
Keberhasilan riset ini sejalan dengan upaya pengembangan teknologi transmisi data satelit, sistem tertanam, dan perangkat lunak radio berbasis simulasi yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Inovasi pada keandalan sistem komunikasi antariksa tersebut merupakan wujud nyata implementasi SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur). Penerapan jaringan komunikasi satelit APRS yang tangguh untuk memfasilitasi komunikasi darurat di wilayah terisolir juga secara langsung memperkuat ketahanan masyarakat pada capaian SDG 11 (Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan). Melalui keberhasilan publikasi pada jurnal terindeks Scopus Q3 ini, Program Studi MEI bersama Laboratorium STR DIKE UGM menegaskan kontribusinya dalam mencetak riset terapan yang mendukung kemandirian infrastruktur telekomunikasi digital di Indonesia.
Author : Andi Dharmawan
Editor : Faiz Anggoro
#SDGs9 #SDGs11