Sasar Pendidikan Wilayah 3T, Mahasiswa MKA DIKE UGM Rancang Tutor AI Luring di Ajang BRIN AIDeaNation 2026

Sasar Pendidikan Wilayah 3T, Mahasiswa MKA DIKE UGM Rancang Tutor AI Luring di Ajang BRIN AIDeaNation 2026

Jakarta, 13 Agustus 2026 – Mahasiswa Program Studi Magister Kecerdasan Artifisial (MKA), Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika (DIKE) FMIPA UGM, Fiqki Haidar Amrulloh dan Aisya Ulul Asmi, berhasil mencuri perhatian dalam babak final kompetisi inovasi teknologi BRIN AIDeaNation 2026. Pada kompetisi bertema “AI for Sustainable Future” yang digelar di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, pada 11 hingga 13 Agustus 2026 tersebut, keduanya mempresentasikan purwarupa sistem pembelajaran terpadu berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) luring untuk wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).

Karya inovatif bertajuk Asisten Intelijen untuk Siswa Andal (AISA) ini dirancang guna mengatasi ketimpangan akses pendidikan di wilayah 3T. Fiqki menjelaskan bahwa gagasan AISA lahir dari keprihatinan terhadap kondisi sekolah di daerah terpencil yang kerap menghadapi kendala jaringan internet tidak stabil, pasokan listrik terbatas, hingga minimnya bahan ajar cetak. Melalui AISA, para siswa dapat membaca materi pelajaran sesuai kurikulum nasional, mengerjakan latihan soal, serta berdiskusi langsung dengan tutor virtual yang mampu memberikan penjelasan maupun contoh penyelesaian masalah secara interaktif.

Guna menyiasati keterbatasan infrastruktur tersebut, AISA dikembangkan agar dapat beroperasi sepenuhnya secara luring (offline). Pemrosesan algoritma kecerdasan buatan dilakukan langsung di dalam perangkat (on-device AI) sehingga sama sekali tidak membutuhkan koneksi internet maupun kuota data. Aisya menambahkan bahwa inovasi ini dipadukan dengan pemanfaatan ponsel pintar bekas layak pakai yang telah diatur secara khusus. Perangkat tersebut dimodifikasi untuk hanya menjalankan aplikasi AISA, sehingga konsumsi daya menjadi jauh lebih hemat sekaligus menjaga efisiensi beban komputasi.

Penggunaan perangkat bekas yang dipadukan dengan teknologi luring ini mampu menekan biaya pengadaan sarana belajar secara signifikan. Pendekatan tersebut dinilai jauh lebih ekonomis dibandingkan keharusan membangun laboratorium komputer konvensional, sekaligus memangkas beban biaya operasional internet bulanan. Melalui ajang BRIN AIDeaNation 2026, Fiqki dan Aisya berharap dapat menjalin kerja sama dengan pemerintah maupun pihak industri agar purwarupa AISA dapat diuji coba dan diimplementasikan secara luas di berbagai sekolah di wilayah 3T. 

Pengembangan inovasi pembelajaran luring bagi daerah tertinggal ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Penyediaan akses sarana belajar yang merata bagi siswa di daerah terpencil merupakan wujud implementasi SDG 4 (Pendidikan Berkualitas). Pemanfaatan perangkat bekas layak pakai serta penerapan teknologi kecerdasan buatan tepat guna secara langsung menunjang kemajuan inovasi yang selaras dengan target SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur). Ketersediaan fasilitas pendidikan tanpa ketergantungan internet ini pada akhirnya berkontribusi menekan ketimpangan digital antarwilayah sesuai mandat SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan). DIKE UGM berkomitmen terus mendorong sivitas akademikanya untuk menghasilkan solusi teknologi cerdas yang mampu menjawab tantangan aksesibilitas pendidikan di Indonesia.

 

Author : Fiqki Haidar Amrulloh
Editor : Faiz Anggoro
#SDGs4 #SDGs9 #SDGs10


Sebelumnya
Berikutnya