DCSE Summer Course 2026 Bahas Spatial Intelligence hingga Drone di Hari Ketiga Program

DCSE Summer Course 2026 Bahas Spatial Intelligence hingga Drone di Hari Ketiga Program

Yogyakarta, 29 Juli 2026 – Memasuki hari ketiga, DCSE Summer Course 2026 menghadirkan lima sesi materi dengan topik yang lebih beragam, mulai dari spatial intelligence, pemanfaatan AI bagi dosen, semikonduktor cerdas, natural language processing (NLP) untuk bahasa dengan sumber daya terbatas, hingga pengenalan dasar teknologi drone. Melalui berbagai topik tersebut, peserta diajak memahami AI dari berbagai perspektif sekaligus melihat penerapannya dalam menjawab berbagai permasalahan di masyarakat.

Sesi pertama diisi oleh Dr. Amin Anjomshoaa yang membahas irisan antara spatial intelligence dan knowledge graph. Ia memperkenalkan konsep “drive-by sensing”, yaitu pemanfaatan sensor pada kendaraan, seperti truk sampah atau taksi untuk memperluas data spasial secara hemat biaya. Selain itu, ia memaparkan proyek CRISP yang memanfaatkan knowledge graph untuk memetakan dampak bencana seperti gempa dan banjir. Menurutnya, dalam situasi berisiko tinggi, knowledge graph yang terstruktur tetap lebih dapat diandalkan dibandingkan large language model (LLM) yang masih berpotensi menghasilkan halusinasi.

Materi selanjutnya disampaikan oleh Dr.rer.nat. Wiwit Suryanto, S.Si., M.Si., yang membahas pemanfaatan AI agent untuk mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ia menjelaskan bahwa AI agent bekerja melalui siklus observasi, perencanaan, implementasi, dan evaluasi, sehingga mampu mempercepat produktivitas riset, misalnya dalam menganalisis data dalam jumlah besar. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penilaian manusia tetap tidak dapat digantikan karena hasil akhir tetap memerlukan tinjauan langsung dari peneliti. Pada sesi tanya jawab, ia juga menekankan pentingnya masyarakat merujuk pada lembaga resmi, seperti BMKG, untuk memperoleh informasi kebencanaan yang akurat. 

Sesi berikutnya dibawakan oleh Prof. Adhimoorthy Saravanan dari National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) yang membahas perpaduan material semikonduktor, AI, dan Internet of Things (IoT). Ia menjelaskan peran penting Taiwan dalam industri semikonduktor global, termasuk keberadaan TSMC, serta memaparkan bagaimana integrasi AI ke dalam sensor menghasilkan “intelligent sensing” yang lebih sensitif untuk berbagai bidang, mulai dari kesehatan hingga smart city. Ia juga mengajak mahasiswa untuk aktif berkarya dan berkolaborasi karena AI-integrated semiconductor dan photonic chip akan menjadi bidang yang terus berkembang. 

Materi keempat disampaikan oleh Nedjma Ousidhoum, asisten profesor dari Cardiff University yang berfokus pada natural language processing (NLP). Ia menyampaikan bahwa riset NLP seharusnya berangkat dari persoalan nyata di lapangan, bukan sekadar mengikuti tren teknologi. Ia membagikan pengalamannya mengembangkan “Brighter”, kumpulan data multibahasa untuk pengenalan emosi yang mencakup bahasa dengan sumber daya terbatas, seperti bahasa Indonesia, Jawa, dan Sunda. Dataset tersebut menjadi salah satu sumber data penting bagi bahasa-bahasa yang selama ini masih kurang terwakili dalam riset NLP. 

Rangkaian hari ketiga ditutup dengan tutorial “Drone for Dummies” yang dibawakan oleh tim Aeromodelling Elins Research Club. Peserta diperkenalkan pada jenis dan komponen dasar drone, cara kerja sensor navigasi, serta pemanfaatannya di berbagai sektor, seperti pertanian, pengiriman obat, dan pencarian korban bencana. Selain itu, peserta juga memperoleh pengenalan mengenai prosedur keselamatan dasar sebelum menerbangkan drone.

Rangkaian materi pada hari ketiga ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pemanfaatan AI untuk mendukung dosen dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi serta pengembangan sumber data bahasa daerah, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan semikonduktor cerdas dan teknologi Internet of Things (IoT), serta SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui pemanfaatan spatial intelligence dan teknologi drone untuk mendukung manajemen krisis serta mitigasi bencana di wilayah perkotaan. Melalui penyelenggaraan DCSE Summer Course 2026, DIKE UGM turut memperkuat kontribusinya terhadap pencapaian tujuan-tujuan tersebut dengan menghadirkan ruang kolaborasi akademik internasional yang mendorong pertukaran pengetahuan, inovasi, dan pengembangan riset di bidang kecerdasan artifisial, robotika, dan sistem cerdas. 

Author: Marina Indah
Editor: Hikmah Nursidik

#SGDs4 #SGDs9 #SGDs11


Sebelumnya
Berikutnya