Ulsan, Korea Selatan, 12 Agustus 2026 — Dosen Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika (DIKE) Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada, Dr. Lukman Awaludin, S.Si., M.Cs., mempresentasikan hasil penelitiannya pada The 6th International Workshop on Intelligent Systems (IWIS 2026) yang berlangsung di University of Ulsan, Republik Korea, pada 9–12 Agustus 2026. Konferensi tersebut diselenggarakan oleh IEEE Industrial Electronics Society (IES) bekerja sama dengan University of Ulsan dan prosidingnya terindeks IEEE Xplore.

Paper yang dipresentasikan berjudul “Study Comparison of Semantic Segmentation for RGB-D Borobudur Temple Bas-Relief Images”, dengan penulis Dr. Lukman Awaludin, Prof. Agus Harjoko, Dr. Niken Wirasanti, dan Dr. Wahyono. Penelitian ini membandingkan secara sistematis lima arsitektur segmentasi semantik berbasis deep learning — DeepLabV3+, PSPNet, SegNet, DenseUNet, dan U-Net — untuk memisahkan delapan kategori ikonografis pada citra RGB-D relief Candi Borobudur. Presentasi disampaikan pada Oral Session 1 bertema Machine Learning & Deep Learning, Senin (10/8), di hadapan peserta konferensi dari sepuluh negara.
“Relief Borobudur adalah objek yang sulit bagi komputer: warnanya nyaris seragam dan batas antarobjek hanya terbaca dari kedalaman pahatannya. Karena itu kami menguji apakah informasi depth benar-benar membantu model mengenali ikonografi pada relief,” ujar Lukman. Menurutnya, studi perbandingan seperti ini diperlukan sebagai rujukan sebelum teknologi segmentasi diterapkan pada pekerjaan dokumentasi digital cagar budaya. “Kami ingin memberi dasar yang jelas: arsitektur mana yang paling andal untuk data relief, dan pada kondisi seperti apa. Ini pijakan agar dokumentasi digital Candi Borobudur bisa dilakukan lebih cepat dan konsisten,” katanya.

Diskusi seusai pemaparan berkembang pada persoalan akuisisi dan anotasi data RGB-D pada objek cagar budaya, penanganan ketidakseimbangan jumlah data antarkategori ikonografis, serta peluang penerapan model serupa pada situs warisan budaya lain. Candi Borobudur sendiri merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO yang pendokumentasiannya menuntut ketelitian tinggi dan metode yang tidak merusak objek.
IWIS 2026 menghadirkan tiga keynote speech, yaitu Prof. Yossapong Laoonual (King Mongkut’s University of Technology Thonburi) tentang ekosistem mobilitas listrik berkelanjutan, Dr. Micha Muenzenmay (Robert Bosch GmbH) tentang software-defined machine tech stack untuk aplikasi berkeselamatan kritis, dan Prof. Kouhei Ohnishi (Keio University) tentang robot teleoperasi dengan twin master system. Konferensi yang diketuai Prof. Kanghyun Jo dari University of Ulsan ini juga menggelar industry forum bertema 4D Radar for Extreme Mobility, lima oral session, dan satu poster session. Sejumlah peneliti Indonesia turut berkontribusi pada konferensi tersebut, di antaranya dari Universitas Gadjah Mada dan Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta, baik sebagai pemakalah maupun session chair. Kehadiran mereka menjadikan forum ini sekaligus ajang penguatan jejaring peneliti Indonesia di bidang sistem cerdas.
“Selain publikasi, yang paling berharga dari forum seperti ini adalah jejaringnya. Ada banyak peluang kolaborasi yang terbuka, dan kami berharap bisa menindaklanjutinya dengan riset bersama,” ujar Lukman. Ia menambahkan bahwa masukan yang diperoleh akan digunakan untuk pengembangan riset lanjutan, termasuk perluasan cakupan data dan pengujian model pada objek warisan budaya lainnya.
Keikutsertaan pada IWIS 2026 didukung pendanaan Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM Tahun Anggaran 2026. Paper yang dipresentasikan dijadwalkan terbit pada prosiding IEEE IWIS 2026 yang terindeks IEEE Xplore. Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure, melalui pengembangan dan pemanfaatan kecerdasan artifisial, computer vision, serta teknologi RGB-D untuk inovasi dokumentasi digital; SDG 11: Sustainable Cities and Communities, khususnya upaya perlindungan dan pelestarian warisan budaya melalui penerapan teknologi yang mendukung dokumentasi Candi Borobudur secara digital dan non-destruktif; serta SDG 17: Partnerships for the Goals, melalui penguatan jejaring, pertukaran pengetahuan, dan peluang kolaborasi riset antara peneliti UGM dengan akademisi, peneliti, dan mitra internasional yang hadir dalam IWIS 2026.
Author: Lukman Awaludin
Editor: Hikmah Nursidik
#SGD9, #SGDs11, #SGDs17