Yogyakarta, 14 Juli 2026 – Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan metode penglihatan komputer (computer vision) untuk memperkirakan kedalaman permukaan relief Candi Borobudur dari pasangan citra stereo. Riset ini menjadi bagian dari upaya UGM memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendukung pelestarian serta digitalisasi warisan budaya yang diakui dunia.
Penelitian ini dilakukan oleh tim lintas bidang di UGM yang terdiri atas Lukman Awaludin, Agus Harjoko, dan Wahyono dari Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika (DIKE), bersama Niken Wirasanti dari Departemen Arkeologi. Kolaborasi tersebut mempertemukan keahlian di bidang komputasi dengan pemahaman terhadap nilai sejarah dan arkeologi Candi Borobudur, sehingga pendekatan yang dikembangkan relevan secara teknis sekaligus peka terhadap kaidah pelestarian cagar budaya.

Fokus riset ini adalah memperkirakan kedalaman permukaan relief dan menghasilkan depth map secara non-destruktif, yakni tanpa menyentuh atau merusak batu aslinya. Permukaan relief Borobudur diketahui menantang untuk dipetakan karena teksturnya yang halus dan nyaris rata, pelapukan yang tidak merata, serta kondisi pencahayaan yang berubah-ubah. Untuk mengatasi tantangan tersebut, tim menyusun benchmark terstandar yang membandingkan sejumlah metode stereo klasik, sekaligus mengusulkan metode yang memperkuat petunjuk tekstur pada permukaan batu tanpa memerlukan perangkat tambahan.
Dari kajian tersebut, tim menemukan bahwa metode klasik masih memiliki keterbatasan dalam memetakan permukaan batu yang minim tekstur. Meski demikian, metode yang diusulkan tim UGM menawarkan keseimbangan terbaik antara ketelitian dan kecepatan pemrosesan di antara metode-metode klasik yang diuji, sehingga menjadi pilihan yang praktis untuk digitalisasi relief dalam skala besar. Temuan ini juga menjadi dasar dan rujukan yang dapat direproduksi untuk pengembangan pendekatan berbasis deep learning pada tahap berikutnya.
Riset ini memiliki arti penting karena panel-panel relief Borobudur menyimpan kekayaan naratif dan artistik yang perlu didokumentasikan secara digital untuk kepentingan konservasi, pendidikan, dan pemanfaatan publik. Pemetaan kedalaman yang andal menjadi tahap awal dalam mendukung berbagai kebutuhan pelestarian digital, mulai dari dokumentasi hingga pemantauan kondisi permukaan candi tanpa mengganggu keutuhan situs. Data citra dikumpulkan langsung di kompleks Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO dan monumen Buddha terbesar di dunia, atas izin dan dukungan Balai Konservasi Borobudur. Penelitian ini memperoleh dukungan melalui Program Bantuan Publikasi 2026 Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UGM.
Capaian tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan riset dan ilmu pengetahuan, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan inovasi teknologi, SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui upaya pelindungan warisan budaya dunia, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi lintas disiplin dan kelembagaan dalam pelestarian cagar budaya. Melalui riset ini, DIKE UGM menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ilmu pengetahuan yang berdampak nyata bagi masyarakat dan bangsa, khususnya sebagai jembatan antara riset akademik dan kebutuhan pelestarian cagar budaya. Informasi selengkapnya dapat dibaca pada jurnal saat paper ini terbit di International Journal of Computing and Digital Systems (IJCDS).
Author: Lukman Awaludin
Editor: Hikmah Nursidik
#SDGs4 #SDGs9 #SDGs11 #SDGs 17