Hadiri ICETT 2026 di Korea Selatan, Dosen Lab RPLD DIKE UGM Usung Riset AI Pendidikan Inklusif 

Hadiri ICETT 2026 di Korea Selatan, Dosen Lab RPLD DIKE UGM Usung Riset AI Pendidikan Inklusif 

Seoul, 24 Mei 2026 – Dosen Laboratorium Rekayasa Perangkat Lunak dan Data (RPLD) DIKE FMIPA UGM, Dr.techn. Guntur Budi Herwanto, M.Cs., mempresentasikan hasil risetnya pada 12th International Conference on Education and Training Technologies (ICETT 2026). Konferensi internasional yang disponsori oleh Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) ini diselenggarakan di Seoul, Korea Selatan, pada 22 hingga 24 Mei 2026. Forum ini menghadirkan ruang diskusi bagi akademisi, peneliti, dan praktisi global untuk membahas peluang sekaligus risiko pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) bagi ekosistem pendidikan yang semakin beragam. 

Dalam forum tersebut, Dr. Guntur mempresentasikan makalah berjudul “Generative AI in Education for Underserved Communities: Challenges and Research Agenda”. Riset yang didasarkan pada tinjauan sistematis terhadap 57 studi dari berbagai kawasan dunia ini mengangkat pertanyaan mendasar mengenai peran teknologi AI generatif, seperti ChatGPT, Claude, dan Gemini, dalam menjembatani atau justru memperlebar kesenjangan pendidikan. Kajian ini menjadikan program One Laptop Per Child (OLPC) di negara berkembang sebagai pembelajaran untuk mencegah risiko kegagalan serupa pada adopsi teknologi saat ini, mengingat program tersebut belum berhasil karena kurang memperhatikan aspek pedagogi, konteks budaya lokal, dan dukungan berkelanjutan bagi guru. 

Hasil analisis terhadap puluhan studi yang mencakup wilayah Asia-Pasifik, Afrika, Amerika Latin, hingga Amerika Utara tersebut mengidentifikasi lima tantangan utama penerapan AI generatif (GenAI). Pertama, keterbatasan infrastruktur terlihat dari akses internet yang tidak stabil di daerah pedesaan. Kedua, hambatan bahasa terjadi akibat dominasi bahasa Inggris pada sistem GenAI yang menurunkan performa pemrosesan bahasa lokal dan minoritas. Ketiga, kesenjangan literasi digital dipicu oleh banyaknya pendidik di daerah terpencil yang belum mendapat pelatihan memadai. Keempat, minimnya kesadaran akan hak pelindungan data terus memunculkan kekhawatiran terkait privasi. Kelima, bias dalam keluaran (output) GenAI berisiko memperparah stereotip sosial di tengah masyarakat.

Berdasarkan temuan tersebut, riset yang akan diterbitkan dalam Prosiding IEEE ini mengusulkan tiga pilar agenda solusi. Pilar tersebut mencakup penerapan kerangka desain inklusif dengan menempatkan komunitas marginal sebagai ko-kreator, pelaksanaan studi efikasi terlokalisasi melalui pengembangan antarmuka GenAI dalam bahasa-bahasa lokal seperti yang telah diujicobakan di Ghana untuk bahasa Twi dan di Guatemala untuk bahasa Maya, serta pembangunan ekosistem teknologi yang mandiri agar tidak bergantung pada infrastruktur global yang mahal dan tidak merata distribusinya. Usai sesi presentasi, Dr. Guntur turut bertukar gagasan bersama para peneliti dari Filipina, Malaysia, Vietnam, dan Tiongkok. Interaksi tersebut membuka peluang nyata bagi kolaborasi penelitian antarnegara, khususnya dalam mengeksplorasi isu teknologi pendidikan yang relevan dengan konteks kawasan Asia Tenggara.  

Kehadiran aktif Lab RPLD DIKE UGM dalam komunitas riset teknologi pendidikan internasional diharapkan mampu mengangkat isu-isu pendidikan berbasis AI yang relevan bagi Indonesia dan kawasan Asia Tenggara, sejalan dengan capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Dorongan untuk menyediakan akses teknologi AI yang merata merupakan wujud implementasi SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), yang selaras dengan upaya menutup kesenjangan digital pada komunitas kurang terlayani sesuai prinsip SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan). Kolaborasi dengan peneliti dari berbagai negara Asia dan jaringan IEEE tersebut turut merepresentasikan capaian SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Partisipasi Dr. Guntur pada forum internasional ini menjadi wujud dukungan DIKE UGM dalam mendorong riset pemanfaatan teknologi yang inklusif, berkeadilan, dan relevan dengan tantangan ekosistem pendidikan masa depan.

Author : Guntur Budi Herwanto
Editor : Faiz Anggoro
#SDGs4 #SDGs10 #SDGs17


Sebelumnya
Berikutnya