Seminar Future Tech Leaders MCS UGM Soroti Kepemimpinan dan Teknologi Inklusif

Seminar Future Tech Leaders MCS UGM Soroti Kepemimpinan dan Teknologi Inklusif

Yogyakarta, 18 Oktober 2026 – Program Studi Magister Ilmu Komputer (Master of Computer Science/MCS), Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika (DIKE) FMIPA UGM, menyelenggarakan seminar Future Tech Leaders: Leadership and Inclusivity in Technology pada Jumat (16/10/2026) secara daring melalui Zoom Workplace. Kegiatan ini ditujukan bagi mahasiswa baru MCS angkatan 2026/2027 sekaligus menjadi bagian dari peringatan 27 tahun Program Studi Magister Ilmu Komputer. Seminar ini membahas pentingnya keterampilan komunikasi dan kepemimpinan serta penerapan prinsip aksesibilitas dalam pengembangan teknologi. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga mampu memahami kebutuhan masyarakat dan mengembangkan teknologi yang inklusif.

Ketua Program Studi Magister Ilmu Komputer, Wahyono, S. Kom., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan bahwa mahasiswa tidak cukup hanya menguasai kemampuan teknis. Mereka juga perlu mengembangkan keterampilan kepemimpinan dan manajerial untuk menghadapi dinamika dunia profesional. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Prof. Dr.-Ing. Mhd. Reza M. I. Pulungan, S.Si., M.Sc. selaku Dekan FMIPA UGM. Ia menekankan pentingnya menghubungkan pengetahuan dan metodologi yang diperoleh di bangku kuliah dengan persoalan nyata di masyarakat. Menurutnya, calon pemimpin teknologi perlu memiliki kepekaan terhadap isu disabilitas dan keterbatasan akses. Kemudahan yang dinikmati sebagian pengguna teknologi perlu dipahami sebagai privilese yang disertai tanggung jawab untuk menghadirkan teknologi yang dapat digunakan oleh lebih banyak orang.

Seminar menghadirkan dua narasumber dengan materi yang saling melengkapi. Pada sesi pertama, Topan Perkasa Hamudya, S.E., M.I.Kom., Direktur Utama PT Daya Inventia Corpora (XCON) sekaligus executive coach, membahas kepemimpinan di bidang teknologi. Ia menjelaskan bahwa kemampuan teknis perlu didukung keterampilan komunikasi untuk membangun kepercayaan, menyelaraskan tujuan, dan mendorong kolaborasi dalam tim. Peserta juga diajak mengenali karakter komunikasi melalui pendekatan DISC serta memahami cara menyampaikan kendala dan risiko secara objektif kepada pimpinan.

Sesi kedua menghadirkan Sholih Muhdlor dari Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak (SAPDA) Yogyakarta. Ia membahas pentingnya merancang teknologi yang memperhatikan hak dan kebutuhan penyandang disabilitas. Menurutnya, aksesibilitas perlu dipertimbangkan sejak tahap awal pengembangan, bukan sekadar ditambahkan setelah sistem selesai dibuat. Materi juga mencakup penerapan fitur aksesibilitas, seperti teks alternatif pada gambar, dukungan pembaca layar, takarir, serta pilihan verifikasi digital yang dapat digunakan oleh pengguna dengan kebutuhan berbeda.

Diskusi berlangsung melalui sesi tanya jawab yang membahas tantangan menyeimbangkan keamanan digital dan aksesibilitas, termasuk penggunaan CAPTCHA dan verifikasi biometrik. Melalui contoh tersebut, peserta diajak memahami bahwa sistem yang aman tetap perlu dirancang agar dapat digunakan secara mandiri oleh berbagai kelompok masyarakat.

Seminar ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penguatan kompetensi kepemimpinan mahasiswa; SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan teknologi yang bertanggung jawab; serta SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan melalui penerapan prinsip aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Melalui kegiatan ini, DIKE FMIPA UGM turut mendorong pengembangan sumber daya manusia di bidang komputasi yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga peka terhadap kebutuhan masyarakat dan mampu menghasilkan inovasi yang inklusif.

 

Author: Hikmah Nursidik

Editor: alukman

#SDGs4 #SDGs9 #SDGs10


Sebelumnya
Berikutnya